Selasa, 05 Juni 2012
DETIK-DETIK PENANTIAN
Siang malam terus berganti, bulan demi bulan kita lewati, hujan dan panas selalu mengiringi hari-hari yang kita jalani. Tidak terasa, ternyata kita sudah memasuki bulan sya’ban, tidak terasa pula umur kita semakin bertambah, dan sisa hidup kita semakin berkurang. Kita tidak tahu, apakah hidup ini masih tersisa berpuluh-puluh tahun lagi ataukah hanya tinggal beberapa detiksaja? Kita berada didalam deti-detik penantian. Penantian akan datangnya kematian. Dalam penantian ini, marilah kita sama-sama introspeksi diri, yaitu mengoreksi diri kita masing-masing! Apakah yang kita lakukan selama ini sudah sesuai dengan apa yang dicintai Alloh SWT ataukah tidak?
Umar pernah berkata: “Introspeksilah diri kalian, sebelum amalan-amalan kalian dihisab (di hari perhitungan amalan)!Timbanglah diri kalian sebelum, sebelum amalan kalian ditimbang(di hari pertimbangan amal)!!! Sesungguhnya, mengintrospeksi diri pada saat ini lebih mudah daripada saat ditunjukkan amalan perbuatan kalian (di hari hisab). Berhiaslah untuk menghadapi hari ditunjukkanya amalan yang paling hebat. Alloh berfirman:
“Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Alloh).”
Dalam detik-detik penentian ini, seharusnya kita merenungi bahwa kita hanya diberi kesemmpatan untuk hidup sekali saja di dunia ini. Apabila ajal telah datang, siapa gerangan yang bisa menundanya? Alloh SWT berfirman yang artinya:
“Dan Alloh sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Alloh maha mengenal apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Munafiqun:11)
Sabtu, 02 Juni 2012
FUNGSI MEDIA MASSA
1. -Fungsi media massa bagi moral yaitu:
a. Dapat merubah tingkah laku.
b. Dapat memberikan informasi seputar manajemen waktu.
c. Mejadikan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, seperti sifat kita terhadap sesama manusia, yang terkadang sifatnya tidak baik menjadi baik.
-Fungsi media massa bagi jiwa yaitu:
a. Sebagai bentuk asupan energi bagi fisik karena didalamnya memuat berbagai macam bentuk informasi yang mengarah pada kesehatan fisik/jiwa seseorang.
b. Sebagai informasi-informasi yang berkaitan dengan kegiatan olahraga.
c. Rohani kita menjadi tenang.
d. meberikan nilai positif.
- Fungsi media massa bagi agama yaitu:
a. Menambah pengetahuan tentang agama.
b. Merubah akhlak pribadi.
c. Merubah pikiran kita yang semula negatif menjadi positif.
2. Fungsi media massa bagi pendidikan yaitu:
a. Dapat menambah ilmu pengetahuan.
b. Dapat menambah wawasan.
c. Memudahkan kita dalam mencari tugas/referensi-referensi yang diperlukan.
3. Fungsi media massa bagi ekonomi yaitu:
a. Dapat memberikan informasi tentang lowongan pekerjaan.
b. Memberikan kesempatan bagi pembaca meningkatkan kreatifitas ekonomi.
c. Dapat memberikan peluang bagi kita untuk mempublikasikan karya-karya yang kita buat.
d. Dapat digunakan sebagai sarana untuk berbisnis.
4. Fungsi media massa bagi lingkungan yaitu:
a. Dapat mengetahui informasi-informasi disekitar lingkungan kita.
b. Dapat mengetahui keadaan lingkungan kita.
c. Memberikan informasi agar selalu mejaga kebersihan dimanapun kita berada.
5. Fungsi media massa bagi persahabatan yaitu:
a. Membantu dalam mencarikan tugas.
b. Memberikan informasi tentang sesuatu yang diketahui.
6. Fungsi media massa bagi persaudaraan yaitu:
a. Memberikan informasi penting tentang sesuatu yang diketahui.
b. Memberikan pemahaman tentang sesuatu yang telah kita ketahui.
DEFINISI WACANA MENURUT PARA AHLI
Dalam pengertian linguistik, wacana adalah kesatuan makna (semantis) antarbagian di dalam suatu bangun bahasa. Oleh karena itu wacana sebagai kesatuan makna dilihat sebagai bangun bahasa yang utuh karena setiap bagian di dalam wacana itu berhubungan secara padu. Selain dibangun atas hubungan makna antarsatuan bahasa, wacana juga terikat dengan konteks. Konteks inilah yang dapat membedakan wacana yang digunakan sebagai pemakaian bahasa dalam komunikasi dengan bahasa yang bukan untuk tujuan komunikasi.
Menurut Hawthorn (1992) wacana adalah komunikasi kebahasaan yang terlihat sebagai sebuah pertukaran di antara pembicara dan pendengar, sebagai sebuah aktivitas personal di mana bentuknya ditentukan oleh tujuan sosialnya.
Kata Kuncinya yakni komunikasi kebahasaan
Sedangkan Roger Fowler (1977) mengemukakan bahwa wacana adalah komunikasi lisan dan tulisan yang dilihat dari titik pandang kepercayaan, nilai, dan kategori yang termasuk di dalamnya. Foucault memandang wacana kadang kala sebagai bidang dari semua pernyataan, kadang kala sebagai sebuah individualisasi kelompok pernyataan, dan kadang kala sebagai sebuah praktik regulatif yang dilihat dari sejumlah pernyataan.
Kata kuncinya yakni komunikasi lisan dan tulisan
Pendapat lebih jelas lagi dikemukakan oleh J.S. Badudu (2000) yang memaparkan;
wacana sebagai rentetan kalimat yang berkaitan dengan, yang menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lainnya, membentuk satu kesatuan, sehingga terbentuklah makna yang serasi di antara kalimat-kalimat itu. Selanjutnya dijelaskan pula bahwa wacana merupakan kesatuan bahasa terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat atau klausa dengan koherensi dan kohesi yang tinggi yang berkesinambungan,yang mampu mempunyai awal dan akhir yang nyata,disampaikan secara lisan dan tertulis.
Kata kuncinya yakni membentuk satu kesatuan kalimat dan kesatuan bahasa terlengkap
Sementara itu Samsuri memberi penjelasan mengenai wacana, menurutnya;
wacana ialah rekaman kebahasaan yang utuh tentang peristiwa komunikasi, biasanya terdiri atas seperangkat kalimat yang mempunyai hubungan pengertian yang satu dengan yang lain. Komunikasi itu dapat menggunakan bahasa lisan, dan dapat pula memakai bahasa tulisan.
Kata kuncinya yakni kebahasaan yang utuh
Lull (1998) memberikan penjelasan lebih sederhana mengenai wacana, yaitu cara objek atau ide diperbincangkan secara terbuka kepada publik sehingga menimbulkan pemahaman tertentu yang tersebar luas.
Kata kuncinya yakni cara objek atau ide diperbincangkan secara terbuka kepada public
Mills (1994) merujuk pada pendapat Foucault memberikan pendapatnya yaitu wacana dapat dilihat dari level konseptual teoretis, konteks penggunaan, dan metode penjelasan.
Kata kuncinya yakni metode penjelasan
Dari uraian di atas, jelaslah terlihat bahwa wacana merupakan suatu pernyataan atau rangkaian pernyataan yang dinyatakan secara lisan ataupun tulisan dan memiliki hubungan makna antarsatuan bahasanya serta terikat konteks. Dengan demikian apapun bentuk pernyataan yang dipublikasikan melalui beragam media yang memiliki makna dan terdapat konteks di dalamnya dapat dikatakan sebagai sebuah wacana.
LEMBAR PEGANGAN GURU
(LPG)
Resensi buku adalah tindakan memberikan penilaian, mengungkapkan kembali isi buku, membahas, atau mengkritik isi buku.
Unsur-unsur resensi antara lain sebagai berikut:
1. Identitas buku
memuat tentang: judul buku, penulis, penerbit, cetakan, jumlah halaman, harga buku, dan Tahun terbit.
2. Isi yang penting/menarik
memuat ulasan singkat isi buku dengan kutipan secukupnya.
3. Bahasa pengarang
memuat apakah bahasa yang digunakan memakai bahasa sehari-hari yang segar tidak menjemukan, mudah dimengerti oleh pembaca, dan sebagainya.
4. Keunggulan dan kelemahan buku
penulis resensi harus memberikan penilaian mengenai keunggulan dan kelemahan buku yang disertai dengan ulasan secara objektif.
5. Kesimpulan
Penulis resensi harus mengemukakan apa yang diperolehnya dari buku yang diresensinya.
SEJARAH PERKEMBANGAN MEDIA JURNALISTIK
Assosiasi Teknologi dan Komunikasi (Association of Education and Communication Technology/ AECT) di Amerika memberi batasan media yaitu sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan/ informasi. Gagne (1970) menyatakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang untuk belajar. Sementara Bringgs (1970) berpendapat bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar buku, film, kaset adalah contoh-contohnya.
Salah satu media yang digunakan untuk menyampaikan komunikasi secara missal adalah media cetak atau dikenal juga sebagai Jurnalistik.
Secara etimologi, jurnalistik berasal dari dua suku kata, yakni jurnal dan istik.
Jurnal berasal dari bahasa Perancis, jounal, yang berarti catatan harian. Dalam bahasa Latin, juga ada kata yang hampir sama bunyi dan upacannya dengan journal yakni diurna, yang mengandung arti hari ini.
Pada zaman Kerajaan Romawi Kuno saat Julius Caesar berkuasa, dikenal istilah acta diurna yang mengandung makna rangkaian akta (gerakan, kegiatan, dan kejadian). Pada zaman dahulu, kegiatan jurnalistik tentu saja masih sangat sederhana dan medianya belum berupa koran, tabloid, majalah, radio, televisi, apalagi internet. Pada awalnya, komunikasi antar manusia sangat bergantung pada komunikasi dari mulut ke mulut. Catatan sejarah yang berkaitan dengan penerbitan media massa terpicu penemuan mesin cetak oleh Johannes Gutenberg.
Di Indonesia, perkembangan kegiatan jurnalistik diawali oleh Belanda. Beberapa pejuang kemerdekaan Indonesia pun menggunakan jurnalisme sebagai alat perjuangan. Di era-era inilah Bintang Timur, Bintang Barat, Java Bode, Medan Prijaji, dan Java Bode terbit.
Pada masa pendudukan Jepang mengambil alih kekuasaan, koran-koran ini dilarang. Akan tetapi pada akhirnya ada lima media yang mendapat izin terbit: Asia Raja, Tjahaja, Sinar Baru, Sinar Matahari, dan Suara Asia. Kemerdekaan Indonesia membawa berkah bagi jurnalisme. Pemerintah Indonesia menggunakan Radio Republik Indonesia (RRI) sebagai media komunikasi.
Menjelang penyelenggaraan Asian Games IV, pemerintah memasukkan proyek televisi. Sejak tahun 1962 inilah Televisi Republik Indonesia (TVRI) muncul dengan teknologi layar hitam putih. Di masa kekuasaan presiden Soeharto, banyak terjadi pembreidelan (pemberangusan) media massa.
Kasus Harian Indonesia Raya dan Majalah Tempo merupakan dua contoh nyata dalam sensor kekuasaan ini. Kontrol ini dipegang melalui Departemen Penerangan (Deppen) dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Titik kebebasan pers mulai terasa lagi saat BJ Habibie menggantikan Soeharto sebagai Presiden RI, pada 1998. Banyak media massa yang muncul kemudian dan PWI tidak lagi menjadi satu-satunya organisasi profesi kewartawanan.
Kegiatan jurnalisme diatur dengan Undang-Undang Penyiaran dan Kode Etik Jurnalistik yang dikeluarkan Dewan Pers.
Seiring perubahan dan perkembangan zaman, kegiatan jurnalistik pun mengalami proses yang sangat dinamis. Dengan munculnya media internet, kegiatan dan cabang jurnalistik pun turut berubah. Media massa cetak yang mapan pun harus menyesuaikan diri dengan perubahan dan perkembangan tersubut, yang ditandai dengan munculnya versi online mereka. Misalnya harian Kompas (Jakarta), harian Media Indonesia (Jakarta), harian Jawa Pos (Surabaya), harian Kedaulatan Rakyat (Yogyakarta), harian Pikiran Rakyat (Bandung), harian Suara Merdeka (Semarang), tabloid olahraga Bola (Jakarta), dan harian Fajar (Makassar). Mereka kini juga muncul dengan versi online yang berita-beritanya dapat diakses secara gratis lewat internet.
Assosiasi Teknologi dan Komunikasi (Association of Education and Communication Technology/ AECT) di Amerika memberi batasan media yaitu sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan/ informasi. Gagne (1970) menyatakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang untuk belajar. Sementara Bringgs (1970) berpendapat bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar buku, film, kaset adalah contoh-contohnya.
Salah satu media yang digunakan untuk menyampaikan komunikasi secara missal adalah media cetak atau dikenal juga sebagai Jurnalistik.
Secara etimologi, jurnalistik berasal dari dua suku kata, yakni jurnal dan istik.
Jurnal berasal dari bahasa Perancis, jounal, yang berarti catatan harian. Dalam bahasa Latin, juga ada kata yang hampir sama bunyi dan upacannya dengan journal yakni diurna, yang mengandung arti hari ini.
Pada zaman Kerajaan Romawi Kuno saat Julius Caesar berkuasa, dikenal istilah acta diurna yang mengandung makna rangkaian akta (gerakan, kegiatan, dan kejadian). Pada zaman dahulu, kegiatan jurnalistik tentu saja masih sangat sederhana dan medianya belum berupa koran, tabloid, majalah, radio, televisi, apalagi internet. Pada awalnya, komunikasi antar manusia sangat bergantung pada komunikasi dari mulut ke mulut. Catatan sejarah yang berkaitan dengan penerbitan media massa terpicu penemuan mesin cetak oleh Johannes Gutenberg.
Di Indonesia, perkembangan kegiatan jurnalistik diawali oleh Belanda. Beberapa pejuang kemerdekaan Indonesia pun menggunakan jurnalisme sebagai alat perjuangan. Di era-era inilah Bintang Timur, Bintang Barat, Java Bode, Medan Prijaji, dan Java Bode terbit.
Pada masa pendudukan Jepang mengambil alih kekuasaan, koran-koran ini dilarang. Akan tetapi pada akhirnya ada lima media yang mendapat izin terbit: Asia Raja, Tjahaja, Sinar Baru, Sinar Matahari, dan Suara Asia. Kemerdekaan Indonesia membawa berkah bagi jurnalisme. Pemerintah Indonesia menggunakan Radio Republik Indonesia (RRI) sebagai media komunikasi.
Menjelang penyelenggaraan Asian Games IV, pemerintah memasukkan proyek televisi. Sejak tahun 1962 inilah Televisi Republik Indonesia (TVRI) muncul dengan teknologi layar hitam putih. Di masa kekuasaan presiden Soeharto, banyak terjadi pembreidelan (pemberangusan) media massa.
Kasus Harian Indonesia Raya dan Majalah Tempo merupakan dua contoh nyata dalam sensor kekuasaan ini. Kontrol ini dipegang melalui Departemen Penerangan (Deppen) dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Titik kebebasan pers mulai terasa lagi saat BJ Habibie menggantikan Soeharto sebagai Presiden RI, pada 1998. Banyak media massa yang muncul kemudian dan PWI tidak lagi menjadi satu-satunya organisasi profesi kewartawanan.
Kegiatan jurnalisme diatur dengan Undang-Undang Penyiaran dan Kode Etik Jurnalistik yang dikeluarkan Dewan Pers.
Seiring perubahan dan perkembangan zaman, kegiatan jurnalistik pun mengalami proses yang sangat dinamis. Dengan munculnya media internet, kegiatan dan cabang jurnalistik pun turut berubah. Media massa cetak yang mapan pun harus menyesuaikan diri dengan perubahan dan perkembangan tersubut, yang ditandai dengan munculnya versi online mereka. Misalnya harian Kompas (Jakarta), harian Media Indonesia (Jakarta), harian Jawa Pos (Surabaya), harian Kedaulatan Rakyat (Yogyakarta), harian Pikiran Rakyat (Bandung), harian Suara Merdeka (Semarang), tabloid olahraga Bola (Jakarta), dan harian Fajar (Makassar). Mereka kini juga muncul dengan versi online yang berita-beritanya dapat diakses secara gratis lewat internet.
Rabu, 30 Mei 2012
PRAKARTA
Puji syukur senantiasa kita panjatkan kehadirat
Allah SWT karena atas limpahan
rahmat,taufik dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini sesuai
dengan kemampuan yang ada pada diri kami dan juga sesuai waktu yang diberikan.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para
pembaca,itulah harapan kami dalam membuat makalah yang berjudul Mantra;.
DAFTAR ISI
Prakarta
………………………………………………………………………………………i
Daftar
isi…………………………………………………………………………………….ii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar
belakang……………………………………………………………………1
1.2 Rumusan
masalah…………………………………………………………………….2
1.3 Tujuan masalah…………………………………………………………………….3
1.4
Manfaat penulisan………………………………………………………………………..4
BAB 11 PEMBAHASAN
2.1
Mantra……………………………………………………………………..5
2.2
Sebab-sebab munculnya mantra…………………………………………...
2.3
Contoh sebuah mantra……………………………………………………..
BAB 111 PENUTUP
3.1
kesimpulan…………………………………………………………………
3.2
Saran……………………………………………………………………….
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
belakang
Mantra berasal dari
tradisi Weda di india,kemudian menjadi bagian penting dalam tradisi hindu dan
praktik sehari-hari dalam agama Buddah,Sikhisme dan Jainisme.penggunaan mantra
sekarang tersebar melalui berbagai gerakan
spiritual yang berdasarkan ( atau cabang dari ) berbagai praktik dalam
tradisi dan agama ketimuran Khanna (2003 ) menyatakan hubunganmantra dan yantra
dengan manifestasi mental energi sebagai berikut :mantra-mantra,sukun kata
sansekerta yang tertulis pada yantra,sejatinya merupakan ‘’perwujudan pikiran
‘’yang merepresentasikan keilahian atau
kekuatan kosmik ,yang menggunakan pengaruh mantra dengan getaran suara ,mantra
juga di kenal masyarakat indonesia sebagai rapatan untuk maksud dan tujuan tertentu (
maksud baik maupun maksud tidak baik ).Dalam dunia sastra ,mantra adalah jenis
puisi lama yang mengandung daya magis,setiap daerah di indonesia umunya
memiliki mantra ,biasanya mantra di daerah menggunakan bahasa daerah
masing-masing.
1.2
Rumusan masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas ada beberapa permasalahan yang di angkat yaitu :
1.Apa
yang di maksud dengan mantra ?
2.Apa
penyebab munculny mantra ?
1.3 Tujuan penulisan
Adapun tujuan yang ingin di capai dalam makalah ini
adalah sebagai berikut :
1. Menjelaskan
pengertian tentang mantra
2. Memberikan
penjelasan tentang sebab-sebab munculnya mantra.
1.4. Manfaat penulisan
Sesuai latar belakang
dan rumusan masalah yang di sampaika di atas,ada beberapa manfaat yang kita
dapatkan yaitu sebagai berikut :
1.
Kita
mampu memahami tentang mantra yang ada di indonesia
2.
Kita
dapat mengetahui asal mula mantra tersebut.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Mantra
Salah
satu jenis sastra indonesia lama pada taraf permulaan ialah mantra.mantra itu
tidak lain gubahan bahasa yang di serangi oleh kepercayaan kepada dunia yang
gaib dan sakti.Gubahan bahasa dalam mantra itu yang mempunyai seni kata yang
khas pula.kata-katanya dipilih secermat-cermatnya,kalimatnya di susundengan
rapi,begitu pula dengan iramanya.isinya dipertimbangkan sedalam
–dalamnya.ketelitian dan kecermatan memilih
kata-kata,menyusun larik,dan menetapkan iramanya itu sangat
diperlukan,terutama untuk menimbulkan tenaga gaib.hal ini dapat kita pahami
karena suatu mantra yang di ucapkan tidak dengan semestinya,kurang
katanya,salah lagunya,dan sebagainya,akan hilang pula kekuatanya,tidak akan
dapat menimbulkan tenaga gaib lagi.sedang tujuan utama dari suatu mantra ialah
untuk menimbulkan tenaga gaib.
S.Takdir
Alis Jahbana (1952:92 ) menggolongkan mantra ini kedalam golongan bahasa
berirama.sedang bahasa berirama ini termasuk jenis puisi lama.dalam bahasa
berirama itu,irama bahasa sangat dipentingkan terutama dalam bahasa mantra diutamakan sekali irama yang kuat dan teratur
untuk membangkitkan tenaga gaib.Dalam dunia sastra ,mantra adalah jenis puisi
lama yang mengandung daya magis,setiap daerah di indonesia umunya memiliki
mantra ,biasanya mantra di daerah menggunakan bahasa daerh masing-masing.
2.2 Sebab-sebab munculnya mantra
Mantra
itu timbul dari suatu hasil imajinasi dalam alam kepercayaan animism.mereka
percaya kepada hantu,jin,setan,dan
benda-benda keramat dan sakti.hantu,jin dan setan itu menurut anggapan mereka
ada yang jahat yang menganggu kehidupan manusia tetapi ada pula yang baik
,membantu manusia waktu berburu ,menangkap ikan dan sebagainya.
2.3 Contoh sebuah
mantra
Pada
waktu berburu rusa itu tentu mereka akan
berhadapan pula dengan binatang buas,menghuni hutan rimba seperti
harimau,singa,dan ular.untuk itu ada pula mantra yang di bacakan untuk
memberanikan diri melawan harimau itu.mereka beranggapan dengan
mempergunakan mantra,harimau yang ada di
hutan akan lari atau menghindar diri sehingga tidak mengganggu orang yang
berbururusa lagi
Perhatikanlah mantra di bawah ini:
Hai,si gambar alam
Gegap gempita
Jarum besi akan
rumahku
Jarum tembaga akan
rumahku
Ular bisa akan
janggutku
Buaya akan tongka
tmulutku
Harimau menderam
dipengriku
Gajah meandering bunyi
suaraku
Suaraku seperti bunyi
halilintar
BIbir terkatup,gigi
terkunci
Jikalau bergerak bumi
dengan langit
Bergeraklah sati engkau
Hendak marah atau
hendak membinasakan aku ( Wilkinson,1907:42-43
).
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dalam
dunia sastra mantra adalah jenis puisi lama yang mengandung daya magis,setiap
daerah di indonesia umunya memiliki
mantra,biasanya mantra di daerah menggunakan bahasa daerah masing-masing,mantra
itu timbul dari suatu hasil imajinasi dalam alam kepercayaan animisme.
3.2 Saran
Kami
sadar bahwa penyusunan makalah ini masih
jauh dari kesempurnaan ,baik segi penyajianmaupun dari segi teknik penulisan.itu
semua dikarenakan keterbatasan kami memperoleh referensi-referensi yang relevan
dengan makalah ini dan keterbatasan ilmu pengetahuan kami.oleh karena
itu,kritik dan saran sangat kami butuhkan untuk penyempurnaan dalam menyusun
makalah yang akan dating.
DAFTAR PUSTAKA
Alisjahbana,S.Takdir.1952.puisi lama.jakarta:
pustaka rakyat.
Khanna,madu (2003).Yantra :the tantric symbol of cosmic unity.Inner Traditions,ISBN 0-89281-132-3 dan ISBN
978-0-89281- 132-8.P.21.
Langganan:
Postingan (Atom)